Sepenggal Ulasan Sok Tahu dari Buku Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau

Entah mengapa Aan Mansyur tidak membubuhkan tanda tanya di akhir judul antologi puisinya kali ini. Padahal, mengapa luka tidak memaafkan pisau adalah kalimat tanya. Alih-alih menjadi pengurung niat membaca, keanehan itu justru alasan utama saya membeli buku itu tahun 2020 lalu.

Membaca Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau seperti membaca diri sendiri. Saya curiga, Aan lebih peramal daripada peramal. Lewat sajaknya yang tidak rumit, Aan mengajak kita untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang belum sempat atau mungkin sudah sering ditanyakan—pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana cara untuk hidup.

mengapa

usia seseorang tidak dihitung dari seberapa dekat

dia dari kematian?” —”Pertanyaan-Pertanyaan” (Hlm. 22)

Ada banyak orang, barangkali juga kita, percaya bahwa setiap hari adalah perlombaan yang meminta untuk ditaklukkan sehingga setiap pagi mesti bangun untuk mengejar bangun pagi yang lain. Susah payah mencoba untuk hidup, sampai-sampai meninggalkan dan menanggalkan banyak hal. Muaranya selalu sama, tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada dalam genggaman.

aku selembar kertas

yang terbakar

tapi aku gegabah

menganggap

diriku api.” —”Jatuh Cinta” (Hlm. 34)

Sebagian orang yang lain, barangkali juga kita, kewalahan dengan lalu-lalang di benaknya. Kalau ada penghargaan kota paling sibuk di dunia, mungkin pemenangnya adalah otak kita sendiri. Kita terlalu sibuk mengindahkan skenario penuh ketakutan di dalam diri. Hal itu membuat kita ragu untuk menghentikan keragu-raguan sehingga banyak hal yang berakhir sebelum kita memulainya.

“atau alangkah malang

hidup orang dewasa—

 

pikiran & tubuh mereka

sepasang kekasih yang selalu

bekerja & berlibur

di dua tempat berbeda.” —”Daras & Sahda Menangis atau Mereka Sedang Lapar” (Hlm. 39)

Beberapa orang lainnya, barangkali juga kita, adalah fosil yang belum ditemukan arkeolog. Kita terjebak di dalam diri kita dua atau 22 tahun silam. Kita mengutuk masa lalu dan diri kita yang tertinggal di dalamnya. Keringat kita kering karena itu, tetapi air mata tetap basah. Kita lupa, kita tidak punya apa-apa selain masa kini—sekarang ini.

“masa lalu & masa depan tidak pernah

& tidak akan pernah tiba, hilang

atau membeku di luar keberadaan

 

hanya masa sekarang selamanya. ia telentang

tenang & terbuka sebagai buku catatan

di pangkuan tuhan.” —”Bayi Tidur” (Hlm. 38)

Buku ini menyadarkan saya, barangkali juga kamu, tentang segala keangkuhan yang diam-diam menyamar menjadi semak belukar di dalam diri. Keangkuhan untuk tidak mau belajar kembali menyelami diri sendiri, sekali lagi atau 22 kali lagi. Atau keangkuhan kita yang lain, tidak mau menyapa diri sendiri setiap hari atau setiap 22 kali sehari. Atau keangkuhan paling besar dari kita yang tidak berani memaafkan diri sendiri, berkali-kali.

“meluapkan air mata.

melupakan air mata.

 

menerima

menertawai

merawat

melayat

diri

sendiri.” —”Cara Lain Membaca Sajak Cinta” (Hlm.12)

Barangkali mengapa Aan tidak menggunakan tanda tanya untuk Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau adalah karena ia ingin pembacanya melupakan tanda tanya itu. Seperti saya yang bahkan tidak ingat punya pertanyaan-pertanyaan sebelum membeli buku ini. Setelah sampai di halaman terakhir, saya seperti kembali dari perjalanan jauh. Kembali kepada suatu tempat yang tidak jauh-jauh dari diri saya sendiri.

 

Berapa banyak hati yang kamu mau berikan untuk tulisan ini?

Rating rata-rata: 0 / 5. Jumlah rating: 0

Jadilah yang pertama untuk memberi rating pada tulisan ini.