Saya belum pernah menulis prosa fiksi. Kalau nonfiksi, sudah beragam tulisan yang pernah saya buat: peraturan hukum, makalah ilmiah, surat dan laporan resmi, berita dan siaran pers, serta takarir media sosial. Itulah yang membuat saya memutuskan untuk mengikuti kelas penulisan cerita pendek (cerpen) Leila S. Chudori yang dilangsungkan secara daring setiap Kamis selama empat pekan.

Awal pembuatan cerpen adalah gagasan cerita. Gagasan itu bisa bersumber dari mana pun. Bedanya dengan menulis nonfiksi, gagasan fiksi bersumber dari imajinasi, bukan fakta. Bisa saja kita mengambil gagasan dari kejadian nyata, tetapi kita harus membungkusnya dengan khayalan. Kalau dipikir-pikir, penulisan cerpen mirip dengan ketika kita menceritakan sesuatu kepada keluarga atau teman kita. Misalnya, ketika saya menceritakan ulang kisah seorang teman yang ditangkap polisi karena melanggar lampu merah ketika terburu-buru membelikan obat untuk ibunya yang sakit keras.

Dari gagasan awal itu, kita membangun kerangka plot. Plot standar cerpen terdiri atas tiga babak, yaitu perkenalan, puncak, dan penyelesaian. Babak perkenalan menguraikan tokoh yang terlibat di dalam cerita dan masalah yang dihadapinya. Masalah atau konflik itu dijabarkan lebih mendetail dalam babak puncak. Akhirnya, babak penyelesaian menuntaskan masalah tersebut, baik dengan akhir yang bahagia maupun tidak. Pembuatan cerpen akan lebih terarah jika tiap babak diuraikan menjadi subbabak atau subplot.

Setelah membangun kerangka plot, kita perlu membuat profil tokoh pada cerita kita. Bagaimana penampilan fisiknya? Bagaimana wataknya? Apa latar belakangnya? Siapa saja keluarga dan temannya? Itulah beberapa pertanyaan yang perlu kita uraikan untuk tokoh-tokoh kita. Sebaiknya nama tiap tokoh juga sudah ditentukan pada tahap ini.

Dengan bermodalkan kerangka plot tiga babak dan profil tokoh-tokoh cerita, kita sudah bisa menulis cerita kita. Ada penulis yang bisa menulis cerpen dengan mengalir secara langsung. Sayangnya, saya tidak termasuk golongan penulis yang beruntung itu. Saya kesulitan menulis intro, dialog, dan deskripsi. Padahal, unsur-unsur itu penting ada dalam suatu cerpen. Akhirnya saya menulis urutan kejadian seperti suatu sinopsis ringkas. Setelah sinopsis itu rampung dari awal hingga akhir, saya menyunting cerita itu dengan menyelipkan dialog dan deskripsi pada bagian-bagian tertentu yang saya anggap penting, misalnya pada bagian awal dan bagian klimaks. Penulisan cerpen perdana saya dengan judul “Lebam” selesai dalam enam jam dan menghasilkan tulisan dengan panjang sekitar 9.400 karakter.

Bagi saya, menulis cerpen lebih sulit daripada menulis laporan teknis. Kesulitan itu mungkin muncul karena saya belum terbiasa berkhayal. Namun, saya percaya dengan peribahasa “alah bisa karena biasa”. Lancar kaji karena diulang. Lancar jalan karena ditempuh. Saat ini sudah tiga gagasan cerpen yang ada dalam benak saya dan menunggu untuk dituangkan.

Berapa banyak hati yang kamu mau berikan untuk tulisan ini?

Rating rata-rata: 0 / 5. Jumlah rating: 0

Jadilah yang pertama untuk memberi rating pada tulisan ini.