Kecupan Terakhir
Namaku Susi. Aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap hari aku mengawali hari dengan bersemangat. Di sebuah rumah yang sangat sederhana, kubangun dari tempat tidurku, kurapikan kasurku, dan kulari ke kamar mandi untuk membasuh diriku. Ibuku yang telah bangun lebih dulu menyiapkan sarapan untukku dan ayahku; tak mewah dan tak banyak, hanya sepotong tempe goreng dan sepiring nasi sisa kemarin. Di depan ayahku tersuguh secangkir teh hasil petikan ayahku sendiri.
Aku memakan sarapanku dengan lahap. Walau hanya ditemani oleh segelas air, aku tak kecewa. Yang penting, aku sudah cukup kuat untuk beraktivitas di pagi hari. Aku pun memakai seragamku yang tak lagi putih, sepatuku yang tak lagi melekat dengan solnya, dan kuselempangkan tas pemberian tetanggaku yang sudah berhiaskan jahitan. Tak lupa, kuucapkan sampai jumpa kepada ibuku sambil ibuku memberikan kecupan kasih sayang di dahiku. Tampak dari raut wajahnya ada seberkas harapan yang tertuju padaku. Bagaimana tidak? Aku satu-satunya anak dari ibu dan ayahku. Mereka meletakkan harapan yang begitu besar padaku untuk mengenyam pendidikan dan menjadi orang yang berhasil di masa depan.
“Sampai jumpa, Bu. Aku akan baik-baik belajar.” Itulah kata yang selalu kuucapkan sebelum aku berangkat ke sekolah.
Aku pun berangkat ke sekolah ditemani ayahku. Ya, ayahku seorang pekerja di kebun teh milik tetanggaku. Kebetulan, kebun teh tetanggaku terletak tak jauh dari sekolahku. Maka dari itu, kami selalu berjalan bersama. Jalan tanah berbatu tak beraspal menjadi haluan kami setiap hari. Kadang, sepatuku harus ternganga dengan besarnya dan batu-batu besar menyelinap masuk ke sela-sela kakiku. Sakit? Sudah biasa. Hal itu tak menyurutkan semangatku untuk bersekolah.
***
Gerbang sekolah pun menyambutku di balik sinar fajar yang baru menyingsing. Di titik inilah aku harus mengucapkan sampai jumpa kepada ayahku. Tak lupa, ayahku pun memberikan kecupan kepada diriku sebagai tanda bahwa dia berharap aku baik-baik saja. Aku pun segera berlari ke kelas dan duduk di bangku tempat aku menimba ilmu.
Bel pun berdentang. Terdengar langkah tegap berderap dan semakin lama semakin kencang. Ya, itulah guruku. Seorang guru yang kunanti-nantikan setiap bel selesai berdentang. Dia pun menyuruh kami semua membuka buku cetak. Meski buku cetakku lebih mirip dengan daun pisang sehabis membungkus nasi, aku tak malu. Aku memakukan pikiranku kepada guruku sebagai usahaku menepati seberkas harapan yang orang tuaku berikan. Aku tak mau seberkas harapan dari orang tuaku sirna begitu saja jika aku menyia-nyiakan pendidikanku.
Bel kembali berdentang. Lapangan depan kelasku sontak ramai dengan riuhnya anak-anak yang bermain di sela waktu istirahat. Teman-temanku selalu mengajak aku bermain. Namun, aku selalu menolaknya. Aku lebih baik mengurungkan niatku untuk bermain, menetap di mejaku, membuka bukuku, dan belajar sambil ditemani oleh bekal yang ibuku telah siapkan.
***
Bel tanda sekolah usai pun berdentang. Aku bereskan segala peralatan sekolahku, bukuku, semuanya. Aku masukkan ke dalam tasku dan aku bergegas keluar dari kelasku. Aku berusaha menolak ajakkan teman-temanku untuk bermain, tetapi aku tak tahan. Akhirnya, aku pun bermain bersama mereka di bawah teriknya matahari. Setidaknya, aku tak melupakan kebersamaanku bersama teman meski seberkas harapan tersebut terus tebersit di benakku.
Setelah cukup lama bermain, aku segera berlari ke rumahku untuk berjumpa dengan ibuku. Ibuku pasti sangat risau karena aku tak kunjung pulang. Ketika aku menapak ambang pintu rumahku, terdengar suara dari belakang rumah. Sudah tentu, itulah ibuku. Dengan segera dia berlari dari belakang rumah ke ambang pintu rumahku untuk menyambut diriku.
“Kamu ke mana saja, Sus? Ibu risau menunggu kamu.”
“Aku habis bermain dengan teman-teman, Bu.”
“Aduh, Nak, kamu buat ibu kuatir saja. Sudah, kamu sekarang ganti baju, mandi, dan makan ya. Ibu sudah siapkan makanan yang enak untukmu dan untuk ayah.”
“Baik, Bu.”
Aku pun segera melakukan apa yang ibuku katakan. Aku pergi ke kamarku, aku ganti bajuku, dan aku segera mandi. Tak berselang lama, ayahku pun pulang. Tampak wajah letih lesunya sehabis bekerja seharian di kebun teh tetangga.
“Selamat malam, Bu, Sus.”
“Malam, Ayah,” kataku sambil mengeringkan rambutku yang basah.
“Malam. Ayo, segera makan. Ibu sudah siapkan makan malam buat kalian.”
Seperti biasa, makan malamku cukup apa adanya. Di depan kami, tersuguh sebakul nasi yang tak seputih salju, beberapa potong ikan asin, dan sayur rebus. Maklum, penghasilan ayahku tak seberapa. Jika sedang baik, upah ayahku cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari. Jika tidak baik, upah ayahku pun hanya cukup untuk sekali makan bersama keluarga. Untuk membantu ayah, ibuku menjual gorengan di depan rumah dan hari ini ibuku tidak berjualan karena tepung terigu habis.
Kami menyantap makanan kami. Sembari makan, kami pun saling bercerita. Aku bercerita mengenai tadi aku bermain, belajar, dan sebagainya. Ibu pun bercerita mengenai tetangga yang baru melahirkan. Kami pun saling tertawa. Namun, tiba-tiba garis senyum yang lebar di muka ayah perlahan hilang dan digantikan oleh muka sedih nan suram.
“Bu, Sus, semakin hari semakin sulit mendapatkan uang. Kondisi kebun teh tetangga kita sudah tak sebaik dulu. Ayah sudah bekerja sepanjang hari hanya dapat segini. Sepertinya, ayah harus bekerja di kota, deh. Penghasilan Ayah makin lama makin tidak cukup untuk membiayai hidup keluarga. Maafkan Ayah ya, Bu, Sus….”
Belum sempat ayahku menyelesaikan pembicaraannya, sontak aku berteriak dan menangis.
“Ayah, Ayah mau ke mana? Susi enggak mau Ayah pergi! Ayah! Jangan pergi Ayah.”
“Ayah tidak ke mana-mana, Nak. Ayah hanya bekerja lebih jauh saja. Ini juga demi kalian. Demi ibu dan demi kamu, Sus. Kamu, kan, ingin bersekolah, ingin menjadi anak pintar. Ayah perlu cari uang untuk bayar sekolah kamu. Uang sekolah kamu saja masih nunggak 2 bulan.”
“Pokoknya Ayah jangan pergi ke kota! Nanti yang antar aku ke sekolah siapa?”
Melihat kondisi yang semakin kacau, Ibu pun langsung menyuruh aku masuk ke dalam kamar.
“Sus, kamu masuk ke kamar, ya. Ibu ingin bicara dengan ayah dulu.”
Aku pun segera masuk ke dalam kamar sambil berlinang air mata. Kututup pintu kamar dengan kencang dan aku tak tahu apa yang dibicarakan mereka. Yang pasti, aku menangis, menangis, dan menangis sampai pada akhirnya aku tertidur.
***
Fajar pun kembali menyingsing. Cahaya yang tembus masuk ke kamarku. Aku pun terbangun dari tempat tidurku. Suara ayam berkokok terdengar bersahut-sahutan. Namun, aku mendengar suara sedikit gaduh dari luar kamarku. Aku perlahan menapakkan kakiku ke lantai. Kuberjalan perlahan menuju pintu kamarku sambil mendengarkan suara gaduh itu. Semakin dekat dengan pintu, semakin kencang pula suaranya. Aku pun membuka pintu kamarku. Dan, kulihat ayahku sedang berbenah-benah. Tampak sebuah koper tua berada di samping ayahku. Di dapur, ibuku sedang menyiapkan sarapan untuk kami. Aku pun tak kuasa menahan air mataku agar tak jatuh menetes.
“Ayah, jangan pergi. Ayah, jangan pergi jauh. Ayah.”
“Ayah tidak pergi jauh, Sus. Ayah hanya bekerja di tempat yang berbeda saja. Ayah juga melakukan ini demi kamu. Ayah mau supaya kamu menjadi anak yang berhasil dan berpengaruh bagi kami dan negara.”
“Tapi ….”
Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Ibu memanggil kami berdua.
“Ayo, Susi kamu segera siap-siap, ya. Kamu mandi, ganti seragam, sarapan. Ayah, ayo, kita sarapan dulu bersama.”
“Iya, Bu,” jawab kami dengan serentak.
Entah mengapa, ada rasa yang aneh dalam diriku. Ada sesuatu yang hilang dalam diriku, tetapi aku tidak tahu itu apa. Aku pun membasuh diriku sambil diselubungi oleh rasa kehilangan yang cukup mendalam.
Aku pun segera ke ruang tengah untuk menyantap sarapan. Entah mengapa, aku merasa tak nafsu makan meski di depanku tersuguh nasi dan bakwan goreng kesukaanku.
“Ayo, dimakan, dong, sarapannya. Nanti kamu sakit, loh. Ayah akan antar kamu ke sekolah.”
Terlihat di wajahnya terlukis senyuman yang dipaksakan. Ayah berusaha menghiburku, tetapi aku tidak terhibur sedikit pun. Aku pun mulai menyantap sarapanku secara perlahan.
“Ayo, Sus, kita berangkat.”
“Iya.”
Aku pun berangkat ke sekolah. Tak lupa ibuku memberikan kecupannya ke dahiku dan tetap kulihat dari matanya seberkas harapan pada diriku.
Tak seperti biasanya, tak ada satupun keceriaan yang meluap dari hati dan benakku. Jalan menuju ke sekolah pun terasa sangat berat. Batu-batu kerikil di tanah terasa seperti sandungan bagiku.
***
Setengah jam berlalu. Aku tiba di gerbang sekolahku. Pancaran sinar mentari tak lagi menyulut kebahagiaan dalam diriku. Kupandang wajah ayahku yang mungkin tak akan kulihat lagi dalam waktu yang lama.
“Sus, kamu sekolah yang baik-baik, ya. Ayah akan selalu ingat kamu dan kalau sempat, Ayah akan berkunjung ke sini. Jadi anak yang baik, ya. Jangan merepotkan ibumu.”
Tak ada satupun kata yang terucap dari bibirku yang tertutup rapat. Aku hanya memandang wajah Ayah sambil menahan air mata untuk berlinang. Ayah pun berlutut dan memberikan kecupannya yang terakhir kepadaku. Tak kuasa aku menahan air mataku dan aku segera memeluk ayahku erat-erat. Kurasakan betapa hangatnya pelukan ayahku yang tak lagi aku rasakan nanti.
Ayah melepaskan pelukanku dan mengucapkan selamat tinggal padaku. Aku hanya mengangguk dan menatap pada ayahku yang perlahan-lahan melangkah menjauhi sekolah. Memang, sudah saatnya aku merelakan ayahku untuk bekerja di kota.
Bel tanda masuk sekolah pun berdentang. Aku terduduk di bangku sekolahku. Di dalam benakku hanya ada Ayah, Ayah, dan Ayah. Tak ada satupun perkataan guruku yang kudengar. Catatanku masih putih bersih, tanpa goresan pensil dan bolpoin sedikit pun. Tak jarang, perkataan guruku seperti angin lalu di hadapanku.
Saat istirahat, keceriaan temanku tak lagi menggugahku. Aku duduk terdiam di bangku tempatku duduk dan aku kembali mengingat ayahku. Teman baikku, Julita, memanggilku untuk bermain.
“Susi, ayo bermain dengan kami.”
“Maaf, Jul, aku butuh waktu untuk sendiri.”
“Kamu kenapa?”
“Aku sedang bersedih.”
“Coba ceritakan masalah kamu, aku akan dengarkan.”
“Jadi begini, Jul. Ayahku baru meninggalkan rumah.”
Aku pun menceritakan segala hal yang kualami dari kemarin malam hingga sekarang. Julita pun mendengarkan ceritaku dengan begitu saksama.
“Jadi begitu masalahmu, Sus?”
“Iya, Jul.”
“Mungkin itu pilihan terbaik ayahmu, Sus. Kamu kan tahu, sekarang mencari nafkah di desa tak semudah seperti zaman dulu. Harga barang naik, kebutuhan pokok naik, tapi upah enggak naik-naik.”
“Benar juga. Sepertinya memang harus aku relakan ayahku ke kota. Ini demi kebaikan keluarga juga.”
Tak berselang lama, bel tanda istirahat usai pun berdentang. Aku kembali belajar dan aku merasakan pencerahan dari sahabatku.
***
Aku pun beranjak pulang dari sekolah. Namun, tak langsung pulang ke rumah, aku mencoba untuk mengunjungi kebun teh tempat ayahku bekerja dulu. Memang tak jauh, cukup ditempuh dengan berjalan kaki 5 menit, aku sudah tiba di kebun teh itu.
Aku lihat ke sekeliling kebun itu dan memang benar perkataan ayahku. Kebun teh itu terlihat sepi dan tak terurus. Tampak hanya ada beberapa orang bekerja dan mereka terlihat letih lesu. Tak salah keputusan ayahku untuk pergi ke kota mengadu nasib.
Sudah saatnya untuk pulang. Dengan bergegas aku pulang ke rumah. Dalam hatiku berkata bahwa ibuku pasti mencariku. Benar saja. Ketika rumahku masih jauh dipandang, terlihat seseorang yang sedang berdiri. Ternyata ibuku sudah menungguku pulang.
“Ibu!”
“Susi!”
Aku pun langsung disambut dengan pelukan hangat dari ibuku. Ah, begitu hangat rasanya. Tak lupa, aku dikecupnya.
“Kamu kenapa lama sekali, Sus?”
“Tadi aku habis lihat kebun teh, Bu.”
“Tempat Ayah kerja dulu?”
“Iya, Bu.”
“Yuk, kamu beres-beres pakaianmu, ya. Kita mau makan bersama di kantor Pak RT.”
“Oke, Bu.”
Tanpa basa-basi, aku segera membereskan diriku yang baru saja pulang sekolah. Aku mengganti pakaianku, aku rapikan rambutku, dan aku pun siap.
Kami pun langsung bergegas ke kantor Pak RT. Sambil matahari kembali ke tempat peristirahatannya, Ibu pun berbincang-bincang denganku, mulai dari pelajaran, hasil penjualan gorengan yang mulai membaik, dan berbagai macam pembicaraan lainnya. Tak terasa, kami tiba di kantor Pak RT.
Sekejap aku memandang, tampak banyak sekali orang yang hadir. Mereka adalah tetangga-tetanggaku. Maklum, sekali dalam sebulan, Pak RT sengaja mengadakan acara makan malam bersama agar semangat kekeluargaan dalam daerah aku tinggal tetap terjaga. Pastinya hal ini jarang ditemui di daerah perkotaan.
Pak RT pun memulai acara dengan memberikan kata sambutan terlebih dahulu. Sehabis itu, kami doa bersama menurut kepercayaan masing-masing. Kemudian, kami menyantap makan malam yang telah disediakan.
Kehangatan warga di daerah tempat tinggalku sangatlah terasa. Sembari menyantap makanan, mereka bisa saling berbincang. Berbincang tentang keluarga, kondisi keuangan, berita nasional, politik, dan macam-macam.
Namun, ada satu hal yang kurang di acara makan malam kali ini. Ayahku tak hadir. Tak ada suara ayahku yang selalu membuat gelak tawa para hadirin. Tak ada suara ayahku yang mengajakku mengenal tetangga-tetanggaku lebih dekat. Tak ada suara ayahku yang selalu mengingatkanku untuk bersopan santun dengan yang lain. Acara makan malam ini terasa sepi. Ibuku pun hanya termenung di pojok ruangan.
***
Hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan aku lalui. Memang, kepergian ayahku ke kota terasa berat di awal. Akan tetapi, aku mulai terbiasa dengan situasi ini. Malah, semenjak ayahku pergi ke kota, aku pun belajar banyak hal dari ibuku. Aku mulai membantu ibuku berjualan gorengan. Mulai dari mencelupkan tempe ke dalam larutan terigu, menggorengnya di atas wajan yang panas, dan tak jarang cipratan minyak menghampiri diriku. Panas. Tapi, tak apa. Yang penting, aku bisa membantu mencari nafkah untuk aku dan ibuku.
Ayahku pun akhirnya mengirimkan uang hasil jerih payahnya di kota. Tentu, hasil yang diperoleh jauh lebih banyak daripada penghasilannya ketika bekerja di kebun teh tetanggaku. Wah, lumayan. Uang sekolahku terlunasi. Ibuku pun dapat mengembangkan usahanya. Gorengannya kian laku.
Tak berselang lama, setelah enam bulan ayahku berangkat ke kota, ayahku pun berencana untuk mengunjungi rumahku. Rasa rinduku yang tak terbendung lagi lepas semua. Akhirnya, ayahku ingin datang. Apakah ini mimpi? Tidak. Aku pun kembali riang seperti sedia kala.
***
Suatu hari, ketika kubersekolah, tampak hariku baik-baik saja.
Langit cerah nan biru menyambutku di balik jendela sekolah, burung-burung yang berkicau, guruku yang sedang mengajar, dan juga berita bahwa ayahku akan datang ke rumahku hari ini. Tak pernah aku merasakan hari seindah ini. Jika kalian melihat wajahku, tentu kalian akan melihat goresan senyuman yang terukir dengan lebarnya.
“Kebakaran! Kebakaran!” teriak seorang pemuda di depan sekolah.
Kebakaran? Kebakaran di mana? Yang benar saja? Ternyata benar. Di depan halaman sekolah tampak asap pekat membubung tinggi. Sepertinya api itu berasal dari dapur sekolah.
“Murid-murid, tenang! Kita akan keluar satu per satu! Jangan panik!”
Sayang, tak ada yang menghiraukan guruku. Teman-temanku langsung berhamburan keluar. Aku pun ikut panik. Bagaimana ini? Asapnya sudah terlalu pekat. Gelap. Tak terlihat apa-apa. Nafasku seperti tertahan di dada. Sesak sekali. Hanya terdengar suara teriakan dan suara sirene dari mobil pemadam kebakaran. Aku meraba-raba jalanku. Semakin sesak nafasku dan berat rasanya kumelangkah. Lemas. Tak sanggup lagi berjalan. Gelap. Tak tampak lagi cahaya di sekitarku. Hanya ada suara sirene dan tiba-tiba, “Prak.” Suara patahan kayu terdengar begitu kencang. Tubuhku sesaat terasa berat, seperti tertindih sesuatu. Aku tak bisa bergerak. Apakah ini? Panas. Berat. Sesak. Gelap. Sunyi. Hening.
Hening. Ya, hanya keheningan yang kudengar. Tak ada lagi selain itu. Tak terasa apa-apa. Namun, dua kecupan terasa di dahiku. Siapa yang memberikannya? Gelap. Tak tampak apa-apa. Hanya terdengar suara isak tangis dan suara itu terdengar tak asing bagiku. Seberkas harapan dari orang tuaku? Tak tahu. Kecupan terakhirkah? Tak tahu.
Berapa banyak hati yang kamu mau berikan untuk tulisan ini?
Rating rata-rata: 0 / 5. Jumlah rating: 0
Jadilah yang pertama untuk memberi rating pada tulisan ini.