Deretan huruf yang tercetak rapi di atas kertas putih ternyata menjadi pertanda, sebuah ucapan permisi untuk tidak kembali. Ini kengerian ke sekian kali sebelum ingatan menjadi hal paling menakutkan di rentetan kenangan usang. Tulisan ini mewakiliku yang akan segera mati.

Aku benci mengatakan selamat tinggal kepada rutinitas yang berperasaan. Memancing ragu dan dilema dalam hati sekaligus. Kali ini, aku tidak yakin apakah nantinya kuputuskan akan kembali. Jawabnya nanti saja,  Aku sedang menunggu resah menghancurkan amarah hingga tak ada lagi yang menyebutnya sebagai rumah.

Kamu tidak pernah tahu ketakutan apa yang mengikutiku sampai hampir tiap malam, mimpi-mimpi buruk yang menghilangkan semangat hidup, atau keluarga yang terlihat tidak peduli bagaimana hidupmu berjalan. Semuanya menjadi paket yang membuatmu terlatih untuk menjadi gila.

Itu aku.

Itu aku yang membentangkan impian, tetapi dikubur paksa oleh pikiran. Dilenyapkan oleh cerita masa lalu dan dikutuk untuk menguncup redup.

Sering kali malam menjadi diam karena tak ada lengan yang tersimpan. Duka ini lengkap dengan peringatan: tidak ada tempat untuk satu saja perasaan. Sesungguhnya aku ingin sekali didengar dan direngkuh dalam peluk, tidak hanya oleh diri sendiri. Namun, nyatanya aku memilih meringkuk di dalam kandang yang isinya adalah aku seorang diri.

Sisi lainku mencari pola sederhana agar hati dapat berubah perlahan-lahan. Rangkaian pengertian dan landasan tentang separuh jiwa yang dikira hilang. Juga ada tombol kembali kalau aku ingin sekali melambaikan tangan. Cerita dramatis ini sudah diputuskan.

Kehidupan akan berjalan. Begitu juga kesempatan. Apa pun yang terjadi merupakan sebuah pilihan. Khususnya aku yang tidak mungkin melangkah tanpa melalui penantian. Terkesan terburu-buru karena takut kehilangan hingga menyelesaikan misi demi kesepakatan.

Aku menulisnya dengan sangat rapi diiringi lagu seorang penyanyi, “Pamit” dari Tulus pada malam hari sekitar pukul sebelas ketika hujan sudah berhenti turun ke bumi. Mungkin saja ini akan jadi tulisan terakhir atau mungkin saja ini akan jadi lagu yang kudengarkan sebelum aku sungguhan pamit. Tidak ada alasan lain bagiku memutuskan untuk tidak mengundurkan diri dari peradaban yang selalu berganti.

 

Penulis          : Fatimah Kusuma Wahyuningtyas

Penyunting   : Shafira Deiktya

Berapa banyak hati yang kamu mau berikan untuk tulisan ini?

Rating rata-rata: 5 / 5. Jumlah rating: 1

Jadilah yang pertama untuk memberi rating pada tulisan ini.